Thursday, 27/7/2017 | : : UTC+7
BPBD Kabupaten Blitar – Wlingi

Sebanyak 86 Titik Panas Terdeteksi Di Sumatera

Sebanyak 86 Titik Panas Terdeteksi Di Sumatera

Menjelang musim kemarau, sejumlah titik panas terus terdeteksi di Sumatra. Pada Kamis (4/8), jumlah titik panas yang terpantau bertambah menjadi 86 titik dibandingkan hari sebelumnya.

Titik-titik panas yang terpantau tersebut menunjukkan lokasi yang potensi terjadinya kebakaran lahan mencapai lebih dari 50 persen. Jumlah titik panas kemarin mengalami peningkatan satu titik dibanding hari sebelumnya sebanyak 85 titik dan tersebar pada tujuh provinsi.”Dari sensor modis yang terpasang pada satelit Terra dan Aqua, pagi ini terpantau 86 titik panas di Sumatra dengan wilayah masih terkonsentrasi dalam dua hari terakhir di Sumatra Utara,” papar Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Pekanbaru, Slamet Riyadi, Kamis (4/8). Slamet memerinci, titik panas di Sumatra Utara terpantau oleh satelit dalam jumlah yang besar dibanding dengan enam provinsi lain.

Titik yang terpantau di Sumatra Utara berjumlah 33 titik dan diikuti wilayah Sumatra Selatan dengan 21 titik panas. Selanjutnya, disusul wilayah Nanggroe Aceh Darussalam terdeteksi sebanyak 18 titik panas, Lampung (lima titik), Bangka Belitung (empat titik), Sumatra Barat (tiga titik), dan Riau (dua titik).

Terkait munculnya kembali titik-titik panas tersebut, Pemerintah Provinsi Riau memutuskan untuk memperpanjang status siaga darurat kebakaran lahan dan hutan yang berlaku enam bulan sejak Juni hingga 30 November 2016. Komandan Satuan Tugas Karhutla Riau Brigjen TNI Nurendi mengatakan, perpanjangan status itu sebagai upaya untuk memaksimalkan pencegahan penanggulangan karhutla karena setiap tahun terus terjadi, terutama dalam 18 tahun terakhir.

Sedangkan, penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) mulai sulit dilakukan di wilayah Sumatra Selatan dan sekitarnya karena berkurangnya awal penghujan sejak sepekan terakhir. Kepala Seksi Informasi dan Observasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika SMB II Palembang Agus Santosa mengatakan, penurunan jumlah awan karena daerah itu sudah memasuki musim kemarau.”Dari pagi hingga siang hari bisa dikatakan nyaris tidak ada awan penghujan, cumulunimbus. Malah terpantaunya pada malam hari, sementara pesawat TMC tidak bisa dioperasikan pada malam hari,” kata Agus. Ia mengatakan, awan penghujan rata-rata terdeteksi di sebelah utara Sumatra Selatan, yakni di perbatasan Sumsel dengan Jambi dan Bengkulu.

Potensinya pun sangat kecil karena di daerah tersebut merupakan posisi pembelokan angin dari arah barat laut serta lokasi perlambatan angin. Sementara, di beberapa daerah, seperti Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, dan Palembang, merupakan posisi angin kencang sehingga awan pun mengarah ke arah barat laut.

Purwadi, saintis penerbangan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), mengatakan, TMC terakhir kali dilakukan pada Senin (1/8). Meski sulit, untuk memaksimalkan upaya penyemaian, BPPT pada Rabu (3/8) telah mengganti pesawat untuk penyemaian garam, yakni dari pesawat tipe Alfa 2103 menjadi Alfa 2105.

Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan juga saat ini tengah mengajukan penambahan dua unit helikopter pengebom air ke pemerintah pusat untuk pencegahan karhutla. Wakil Komandan Satuan Tugas Pencegahan Karhutla Sumatra Selatan Yulizar Dinoto mengatakan, sebanyak dua unit helikopter waterbomber berkapasitas lima ton air yang disiagakan di BPBD Sumsel sejak Maret 2016 terbilang belum memenuhi kebutuhan mengingat luas daerah.”Selain itu, tujuan meminta tambahan unit helikopter ini agar upaya dini pencegahan karhutla dapat optimal dilakukan. Sumsel juga minta tambahan satu helikopter khusus untuk patroli,” kata dia. Ia mengharapkan, tambahan helikopter dapat segera didatangkan karena Agustus hingga September merupakan puncak musim kemarau.

Selain mengevaluasi kebutuhan sarana dan prasaran karhutla, Sumsel juga akan menambah posko operasi darat di perbatasan Palembang-Inderalaya hingga Desa Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Pemerintah provinsi dalam waktu dekat juga akan mengeluarkan surat edaran ke perusahaan perkebunan untuk menyiagakan pos karhutla selama 24 jam saat musim kemarau ini. “Nanti, pos-pos karhutla ini akan diaudit dan dipantau oleh pemerintah setempat,” kata dia. Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin sudah menerbitkan status siaga darurat bencana asap sejak Maret 2016 untuk lebih dini dalam mencegah karhutla.

Sumber: Republika

Bagikan ke Akun Jaringan Sosial :

FacebookTwitterGoogleTumblrPinterest


About

Redaksi bertugas sebagai penyunting dan penerbit sekaligus editor untuk isi dari semua website yang ada dihalaman website BPBD Kabupaten Blitar, sekaligus bertanggungjawab atas keterangan semua isi berita yang telah diterbitkan. Mengatur penjadwalan penerbitan berita dan mendesain isi berita agar menarik dan komunikatif. Bagi siapapun yang ingin berpartisipasi untuk mengirimkan informasi maupun berita agar diterbitkan di halaman website BPBD Kab Blitar ini bisa langsung mengirimkan email ke redaksi@bpbdkabblitar.info untuk lebih lanjutnya akan ditinjau ulang dan diterbitkan.

Kabupaten Blitar memiliki, luas wilayah ±1.588,79 Km², 22 Kecamatan, 248 Desa/Kelurahan serta jumlah penduduk 1.116.639 . Secara Geografis terletak pada 112°19'32"E Bujur Timur dan 8°4'43"S Lintang Selatan.

Ikuti Kami

  • 100 ribu orang terdampak banjir di NTB, sebagian ditampung di lantai dua masjid-masjid https://t.co/sMK8gSSDLh https://t.co/oXPZG38J7G - https://t.co/sMK8gSSDLh 1 month ago

  • Beberapa Bencana Alam Yang Terjadi pada Akhir Tahun 2016 https://t.co/hQ7z8DQ1Em https://t.co/z2v7pdLuIg - https://t.co/hQ7z8DQ1Em 1 month ago

  • Sering gempa, warga Aceh ‘harus siap hidup bersama bencana’ https://t.co/XYdGn2wZPM https://t.co/6EsvknuIVt - https://t.co/XYdGn2wZPM 1 month ago

Galeri Kami

    Kontak Kami

    Kontak

    Email: admin@bpbdkabblitar.info

    Phone: 0342- 692819

    Fax: 0342- 692819

    Address: Jl. Bromo No.3 Wlingi - Blitar