Friday, 28/7/2017 | : : UTC+7
BPBD Kabupaten Blitar – Wlingi

Bata Ringan Antigempa Hingga Bunga Penyerap Racun, Sebuah Inovasi Peneliti

Bata Ringan Antigempa Hingga Bunga Penyerap Racun, Sebuah Inovasi Peneliti

Masih lekat dalam memori Agung Sumarno tentang gempa bumi dahsyat, yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya medio 2006 silam. Ketika itu, bencana gempa menghancurkan beragam bangunan, termasuk rumah warga, secara masif.

Agung yang sehari-hari bertugas sebagai peneliti di Pusat Penelitian Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kemudian memperoleh inspirasi untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Dasar pemikirannya sederhana.

Menurut Agung, massa sebuah rumah tentu berpengaruh terhadap dampak ikutan yang akan terjadi saat diguncang gempa. Maka sejak 2006, dia berupaya menciptakan salah satu bahan bangunan yang berbobot ringan, yakni batu bata.

Agung dan keempat rekannya, Ananto Nugroho, Triastuti, Eko Widodo, dan Sudarmanto, menciptakan metode pembuatan produk beton ringan cellular light weight concrete (CLC). CLC ini merupakan produk bata ringan yang diproduksi menggunakan standar uji concrete, melalui proses kendali untuk menjaga agar kualitas terjaga.

Memang, tak dapat dimungkiri penggunaan batu bata ringan untuk bangunan rumah, dapat menjamin para penghuni aman dari keruntuhan saat gempa. “Tetapi, jika ada gempa dengan skala sangat besar pun, paling tidak, masyarakat ada waktu menyelamatkan diri. Langkah awal life time istilahnya,” ujar Agung kepada Republika di Bogor, Rabu (12/10).

Dia mengatakan, produk batu bata ringan sebelumnya sudah ada di pasaran. Namun, beratnya bisa mencapai 700 kilogram per meter kubik. Sedangkan batu bata temuan Agung sangat ringan, yaitu hanya 150 kilogram per meter kubik. Meski ringan, bata tetap kuat. Bata baru ini juga kedap dan tahan lama. Bata bisa dimanfaatkan untuk pembangunan rumah tinggal dan bangunan industri yang membutuhkan isolasi dari panas dan suara. Bata bata ringan berukuran 20 x 60 x 7 cm ini menawarkan sedikitnya tiga keunggulan. Selain ringan, batanya juga ramah lingkungan dan mudah dimobilisasi.

Menanam vertikal

Peneliti lainnya yang juga berasal dari P2 Biomaterial LIPI Mohammad Gopar bersama tujuh rekannya, Ismadi, Kurnia Wiji, Nanang, Subyakto, Jayadi, Sudarmanto, dan Sasa Sofyan Munawar memperkenalkan papan komposit untuk menanam tanaman secara vertikal.

Inspirasi di balik ‘kelahiran’ papan komposit ini lantaran ada permintaan dari orang asal Singapura, yang melihat komposit bisa ditanami tanaman. Syaratnya, komposit harus bisa menahan air.

Karena itulah papan komposit ini diciptakan dengan memiliki rongga-rongga agar bisa menampung air. Gopar juga melihat  banyak ruang kosong, terutama di bangunan-bangunan apartemen, yang sayang jika tak dimanfaatkan atau minimal diisi dengan tanaman-tanaman hias.

Oleh karena itu, papan ini dibuat menggunakan teknologi biokomposit kerapatan rendah dengan desain menarik, lebih mudah dipasang, murah, praktis, serta ramah lingkungan. Papan bisa ditanami berbagai tumbuhan, baik tanaman hias maupun sayur-sayuran.

Biasanya komposit hanya digunakan untuk dinding atau interior ruangan. “Namun, sekarang kita sajikan untuk menanam tanaman. Komposit kerapatan rendah bisa menyerap air sehingga dapat ditanami tumbuhan,” ujar Gopar.

Hasil penemuan baru juga disajikan Sri Rahayu dari Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI, dengan mempersembahkan varietas tanaman Hoya Kusnoto dan bunga lipstik mahligai. Ayu, sapaan akrab sang peneliti, menyebutkan kalau dua tanaman hias ini merupakan asli Indonesia.

Varietas ini, menurut dia, diciptakan melalui perkawinan silang, menggabungkan dua keunggulan atau kelebihan dalam satu varietas. Ini menjadi varietas hasil perlakuan mutasi, yang memiliki efek perubahan warna bunga pada bagian mahkota dan korona.

Lebih istimewanya lagi, kedua tanaman ini berfungsi menyerap racun dari udara. Selain cocok diterapkan di area merokok, tanaman tersebut juga bisa menyerap udara kotor yang ada di dalam rumah.

Tanaman bisa menyerap zat kimia, seperti benzene, toluene, dan xylene. “Kita tahu di dalam ruangan rumah itu kan ada karpet, sofa, bau cat, apalagi cat yang baru. Racun di udara akan masuk melalui stomata daun tanaman, lalu diproses dalam metabolisme, diserap melalui daun tanaman,” kata Ayu.

Penelitian tanaman hoya dimulai sejak 1996 sampai 2001. Sedangkan bunga lipstik dari 2002 hingga 2006. Proses berbunganya tanaman memang memakan waktu cukup lama, sekitar dua tahunan. Akan tetapi, Hoya mudah dibudidayakan dengan menanamnya pada media yang bersifat porous.

Hilirisasi riset

Agung, Gopar, dan Ayu, adalah para penerima alih teknologi LIPI Award 2016. Penghargaan diberikan dalam acara Pekan Inovasi Teknologi 2016 LIPI di Bogor, Jawa Barat, Rabu (12/10).

Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain menilai, saat ini masih ada gap atau jurang pemisah yang tajam antara lembaga riset, termasuk lingkungan pendidikan, dan dunia industri. Banyak riset yang telah ditelurkan dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan industri, begitu juga sebaliknya.

Kendati begitu, menurut Iskandar, berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan LIPI telah menghasilkan beragam capaian yang signifikan. Hal ini diharapkan mampu termanfaatkan secara maksimal oleh para stakeholder dan masyarakat secara luas.

Iskandar mengatakan, perlu adanya upaya mendorong hilirisasi hasil riset tersebut. Salah satu langkahnya, yaitu lewat ekspos dan publikasi hasil-hasil riset LIPI lewat gelaran PIT 2016.

Digelar untuk ketiga kalinya, PIT akan berlangsung pada 12 Oktober hingga 16 Oktober di Botani Square, Bogor, Jawa Barat. Gelaran ini juga disebut sebagai salah satu wujud komitmen lembaga penelitian terbesar di Indonesia ini untuk memacu peningkatan daya saing nasional, khususnya dalam pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan teknologi.”Dengan kegiatan ini, kami berharap mampu mengakselerasi terjadinya proses alih ilmu pengetahuan dan teknologi dari lembaga litbang dan universitas kepada masyarakat dan industri, yang selanjutnya dapat memiliki dampak besar bagi peningkatan daya saing industri serta peningkatan masyarakat,” kata Iskandar.    Oleh Santi Sopia, ed: Muhammad Iqbal

Sumber: Republika

Bagikan ke Akun Jaringan Sosial :

FacebookTwitterGoogleTumblrPinterest


About

Redaksi bertugas sebagai penyunting dan penerbit sekaligus editor untuk isi dari semua website yang ada dihalaman website BPBD Kabupaten Blitar, sekaligus bertanggungjawab atas keterangan semua isi berita yang telah diterbitkan. Mengatur penjadwalan penerbitan berita dan mendesain isi berita agar menarik dan komunikatif. Bagi siapapun yang ingin berpartisipasi untuk mengirimkan informasi maupun berita agar diterbitkan di halaman website BPBD Kab Blitar ini bisa langsung mengirimkan email ke redaksi@bpbdkabblitar.info untuk lebih lanjutnya akan ditinjau ulang dan diterbitkan.

Kabupaten Blitar memiliki, luas wilayah ±1.588,79 Km², 22 Kecamatan, 248 Desa/Kelurahan serta jumlah penduduk 1.116.639 . Secara Geografis terletak pada 112°19'32"E Bujur Timur dan 8°4'43"S Lintang Selatan.

Ikuti Kami

  • 100 ribu orang terdampak banjir di NTB, sebagian ditampung di lantai dua masjid-masjid https://t.co/sMK8gSSDLh https://t.co/oXPZG38J7G - https://t.co/sMK8gSSDLh 2 months ago

  • Beberapa Bencana Alam Yang Terjadi pada Akhir Tahun 2016 https://t.co/hQ7z8DQ1Em https://t.co/z2v7pdLuIg - https://t.co/hQ7z8DQ1Em 2 months ago

  • Sering gempa, warga Aceh ‘harus siap hidup bersama bencana’ https://t.co/XYdGn2wZPM https://t.co/6EsvknuIVt - https://t.co/XYdGn2wZPM 2 months ago

Galeri Kami

    Kontak Kami

    Kontak

    Email: admin@bpbdkabblitar.info

    Phone: 0342- 692819

    Fax: 0342- 692819

    Address: Jl. Bromo No.3 Wlingi - Blitar